Hitam Putih Emiliano Kita
Adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada hubungan harmonis antarkeluarga, meski banyak hal berbeda di antara mereka?
Lindsay:
Semalam aku bermimpi aneh, tentang seorang gadis remaja.
Dia terasa begitu dekat denganku, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya.
Di situ aku berada di sebuah daerah yang beriklim tropis.
Saat aku terbangun, aku tertegun, hei, aku kan di Vancouver!
Pikiranku langsung menuju Indonesia, dan aku ingin menelepon Papa.
Tapi, siapa, ya, gadis dalam mimpi itu?
Aku memang sering mengalami kejadian aneh.
Aku merasa bisa sedikit melihat ke masa depan atau kejadian yang akan dialami, tapi agak samar-samar.
Waktu kecil, aku pernah mengingatkan Emiliano untuk tidak main sepeda, tapi Emiliano tidak menggubris.
Benar saja, setelah itu, Emiliano tercebur ke dalam got beserta sepedanya.
Sejak itu aku selalu mengalami hal-hal seperti itu.
Mimpi tentang gadis itu mengusikku dan membuatku penasaran.
Ini pasti bukan tentang Melissa, Sabrina, atau Elfira, keponakan-keponakan perempuanku.
Biasanya, kalau begini aku langsung cerita pada keluarga dan ipar-iparku.
Mereka percaya karena dulu pernah kuperingatkan akan mengalami sesuatu dan benar terjadi.
Kutelepon David serta kedua mantan istrinya, Linda Hwa dan Maria Elena.
Juga Aisha, mantan istri Emiliano.
Emiliano sendiri susah dihubungi.
Gayanya seperti pejabat saja, susah dicari.
“Kamu meramal apa lagi?” tanya Maria Elena.
Kuceritakan semua dengan jelas.
“Aku jadi ingin ke Indonesia,” kataku.
Akhirnya hanya Maria Elena dan David yang setuju untuk pergi bersamaku ke Jakarta, dan menginap di rumah Aisha.
Aisha
Hari ini Lindsay datang, menyusul David dan Maria Elena.
Begitu mendadak, jadinya aku tak punya persiapan khusus menyambut mereka.
Lalu kami duduk di ruang tamu membahas mimpi Lindsay.
“Kalau itu merupakan sesuatu yang terjadi, lalu bagaimana kita tah akan kejadiannya, dengan apa? Maksudku, kita harus punya petunjuk yang mengarahkan kita ke sana,” kata Maria Elena.
“Ya, benar,” David setuju pendapat mantan istrinya.
“Eh, David, kamu tahu tidak, tadi waktu kamu baru datang, aku melihat sedikit apa, ya? Seperti aura darimu, seolah-olah menguatkan mimpi tentang gadis itu berhubungan dengan kamu!” ucap Lindsay memandang David.
“Jangan-jangan itu pertanda suatu saat David akan menikah dengan gadis itu,” aku menggoda.
“Tidak! Aku tidak berniat menikah lagi.
Lagi pula, aku sedang tak punya pacar, kok,” David mengelak cepat.
Mungkin ia tidak enak hati di depan Maria Elena.
“Coba kau ceritakan sekali lagi dengan jelas bagaimana mimpimu itu!” aku mengalihkan pembicaraan dan memandang Lindsay.
“Well, baiklah.
Di dalam mimpi itu, seolah-olah aku berada di sebuah kota yang beriklim tropis, ada pantai seperti di Hawaii, lalu aku bertemu seorang gadis remaja.
Cantik, rambutnya panjang, dia terus mematung di pinggir pantai.
Lalu aku menyapanya, dia membalas ramah, lalu kami berbincang-bincang.
Eh, entah ya, rasanya aku telah kenal lama dengannya, tapi, siapa dia, aku sulit mengingatnya…,” jelas Lindsay.
“Kalau pendapatku, mungkin gadis itu adalah seseorang yang akan kau jumpai di masa depan,” kata David berpendapat.
“Atau mungkin juga seseorang dari masa lalu,” sahutku menyambung.
“Masa lalu?” Lindsay bingung.
“Coba kau ingat-ingat, adakah seseorang yang mirip dengan gadis itu, tapi berkaitan dengan masa lalumu?” saran Maria Elena.
“Rasanya tidak, karena sejak aku terjaga dari mimpi, aku memikirkan berkali-kali.
Aku tidak pernah kenal dia, tapi dia mirip sekali dengan seseorang yang aku kenal, tapi tidak tahu siapa karena begitu samar,” ungkap Lindsay dengan rupa bingung.
Semua diam.
“Lind, tadi kau bilang sewaktu kau melihat David, seolah ada aura yang mengaitkannya dengan mimpi itu?” kataku.
David mengerutkan dahi.
“Bisakah kita menarik kesimpulan dengan memberi opini masing-masing?” saran Maria Elena.
“Tapi, gadis itu tidak mirip dengan David,” kilah Lindsay.
“Sudahlah, kita tidak perlu membahas sekarang, lebih baik kalian istirahat saja dulu.
Aku akan coba hubungi Emiliano,” kataku menyudahi.
Yang lain setuju.
Emiliano
Ponselku berbunyi, kulihat nomornya dulu, karena aku sedang enggan mengangkat telepon.
Ah, ternyata Aisha!
“Ya, halo! Ada apa, Ish?” sahutku setengah mengantuk.
“Em, kamu di mana?”
“Di Bandung, dengan Karenina….
”
“Duh, Em, bukannya aku mau ganggu, tapi sekarang di rumahku ada Lindsay, David, dan Maria Elena.
”
Aku kaget.
“Hah! Mau ngapain? Tumben, ini kan bukan musim liburan?”
“Ini tentang mimpi Lindsay.
Kamu kan tahu, dia punya kemampuan ‘melihat’, dan dia sampai merasa perlu datang ke Jakarta.
”
“Oh, begitu… dasar peramal! Oke, nanti sore aku pulang ke Jakarta, langsung ke rumah kamu.
”
“Ajak saja Karenina, ya!” ucap Aisha sebelum menutup telepon.
David
Huh, Jakarta ini panas sekali.
Dan, ya, ampun… di sini macetnya bukan main.
Hari ini aku berniat ke Taman Ismail Marzuki.
Kata Aisha, sedang ada pameran lukisan.
Lindsay sedang sibuk menerka-nerka arti mimpinya.
Emiliano, hmmm… tampaknya dia sedang kasmaran dan sibuk dengan Karenina.
Maria Elena, mantan istri pertamaku itu, sedang sibuk minta diajari Aisha membuat bumbu rujak ulek.
Aku naik taksi saja.
Sampai di TIM, aku agak berkeringat.
Matahari sedang cerah sekali, dan panas membuatku cepat lapar.
Aku duduk di pinggir jalan, makan ketoprak dan minum teh botol.
Lukisan-lukisan yang akhirnya kulihat tidak begitu menarik perhatian, surealisme, aku tidak begitu suka.
Aku meneliti lukisan itu satu per satu, hingga aku lelah juga.
Tiba-tiba aku berhenti pada sebuah lukisan.
Sebenarnya hanya lukisan pohon kelapa di pinggir pantai saat sunset.
Tapi, sepertinya yang ini menarik, pewarnaannya bagus, agak klasik modern.
Aku mematung lama, kubaca nama pelukisnya, Karina.
Karina, hmmm, kurasa dia mempunyai bakat yang bagus.
“Lukisannya memang bagus!” sebuah suara mengagetkanku.
Aku menoleh ke sumber suara, ternyata seorang wanita kira-kira berumur tiga puluhan.
“Ya, bagus, kok!” aku tersenyum.
“Apa kau pelukisnya?”
“Ha…ha…ha…!” wanita itu tersenyum dan tertawa kecil.
“Jika aku pelukisnya, tidak mungkin aku memuji lukisanku di depan orang asing.
”
“Oh, sorry.
”
“Anda mau tahu siapa pelukisnya?” tanya wanita itu.
“Karina, ‘kan?” sahutku, bingung.
“Ya.
Itu orangnya,” wanita itu menunjuk pada seseorang, kira-kira sepuluh meter dari hadapanku.
Tampak seorang gadis, menenteng tas ransel.
“Dia pelukisnya, namanya Karina.
Aku salah seorang pengagumnya.
Dia masih muda sekali, tapi sangat berbakat.
”
“Anda sendiri siapa?” aku ingin tahu.
“Bukan siapa-siapa.
Namaku Jennifer.
”
“Oh, ya, senang bertemu Anda, Jennifer.
Nama saya David.
”
Wanita itu tersenyum, lalu berlalu dari sampingku.
Sungguh wanita yang aneh.
Tapi sudahlah, aku tak begitu peduli.
Kini perhatianku tertuju pada pelukis itu, Karina.
Dia begitu menarik, sama seperti lukisannya, yang pertama kulihat langsung mencuri hatiku.
Aku menghampirinya.
“Maaf, Nona, lukisan Anda bagus sekali!” aku langsung memuji, meski terasa basa-basi.
“Maaf Tuan, eh, Pak….
”
“Ya, Anda Karina, ‘kan? Yang melukis pohon kelapa di saat sunset itu?”
“Ya, betul.
Bagaimana Anda tahu bahwa Karina itu adalah aku?”
“Tadi seseorang memberitahukan padaku.
”
“Oh, begitu,” Karina manggut-manggut.
“Rupanya Anda begitu terkenal, Nona, sehingga orang dengan mudah mengenali Anda.
”
“Masa, sih?” Karina bingung.
“Saya rasa Anda terlalu berlebihan, karena ini adalah kali pertama saya ikut serta dalam pameran lukisan, dan ini hari pertama pameran ini berlangsung.
”
Aku jadi kikuk, sepertinya wanita bernama Jennifer itu begitu kenal pada Karina.
“Nona, apakah Anda kenal dengan seorang wanita bernama Jennifer?”
Karina menggeleng, “Jennifer? Sepertinya tidak, memangnya kenapa?”
Sanita Permata Putri
Pemenang III Sayembara Novel 30 Tahun femina
|